Reaktivasi Husein Sastranegara ditandai beroperasinya penerbangan Wings Air Bandung-Jogja. Namun sayangnya, runway nya yang pendek cuma mentok didarati pesawat jenis ATR 72-600. Pesawat jet kalopun bisa itu nggak akan optimal.
Pendahuluan
Bandara Husein Sastranegara kini telah berusia 104 tahun. Berarti udah seabad lebih ya dan punya sejarah panjang tentunya. Pernah berstatus internasional dan layani penerbangan ke luar negeri. Sayangnya beberapa kali juga coba ditutup dan dipindah ke Kertajati. Sekarang malah mau direaktivasi.
Reaktivasi di sini dalam arti mengembalikan rute penerbangan berjadwal. Minimal rute domestik. Masalahnya, sedari awal kondisi bandara juga yang bikin susah. Dimana pesawat jet apalagi jenis Boeing 737-800 NG atau Airbus 320 nggak bisa optimal kalo mau mendarat di sini.
Itulah kenapa selama masih melayani beberapa rute penerbangan, harga tiket dari Husein Sastranegara itu biasanya lebih mahal. Itu tadi karena daya angkutnya nggak bisa maksimal. Makanya penerbangan domestik yang pake jet pindah ke Kertajati. Tapi sekarang, Kertajati nya sepi dan Husein malah mau direaktivasi.
Memang iya akhirnya juga direaktivasi. Sekarang udah punya penerbangan berjadwal yakni Susi Air rute Pangandaran-Bandung-Jakarta/Halim PP, dan Wings Air Bandung Jogja PP. Sayangnya cuma mentok di ATR 72-600.
Mulai Beroperasi 1 Maret 1922
Flashback sedikit ke sejarahnya, Bandara Husein Sastranegara mulai beroperasi untuk pertama kalinya tanggal 1 Maret 1922. Artinya kemarin tuh udah berusia 104 tahun alias seabad lebih. Awalnya bernama Bandara Andir. Dioperasikan sebagai pangkalan militer Kolonial Belanda sekaligus melayani penerbangan sipil.
Dwifungsi bandara sipil dan militer tetap berlanjut sampe Indonesia merdeka. Di era kemerdekaan, bandara ini berubah nama jadi Husein Sastranegara. Dioperasikan oleh TNI AU dan di sini juga ada pabrik pesawat yang kita kenal dengan nama IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara). Kemudian jadi PT. Dirgantara Indonesia.

Reaktivasi Husein Sastranegara : Sempat Punya Rute Internasional
Bandara Husein Sastranegara cuma punya satu runway berukuran pendek. Maksimal cuma bisa didarati pesawat jenis Airbus 320 dan Boeing 737. Itu juga kapasitas angkutnya nggak maksimal. Kebanyakan jenis propeller yang berukuran kecil.
Di tahun 1990-an, jenis CN 235 dan Fokker cukup dominan. Meski ada 1-2 biji Boeing 737. Bahkan dulu juga pernah punya rute Internasional. Sebelum krisis 1998, pernah ada rute langsung ke Singapore dan Taipei yang dilayani Merpati dan Sempati Air.
Memasuki tahun 2000-an, Boeing 737 mulai dominan. Kemudian dilakukan penebalan runway hingga bisa didarati Airbus 320. Di sini Bandara Husein Sastranegara punya rute Internasional tujuan Singapore dan Kuala Lumpur. Dilayani Air Asia dan Silk Air (sekarang dilebur ke Singapore Airlines).
Reaktivasi Husein Sastranegara : Pindah Paksa ke Kertajati
Sayangnya masa-masa keemasan itupun harus sirna di tahun 2019. Ceritanya waktu itu Kertajati mulai beroperasi meski aksesnya masih minim. Meskipun begitu, otoritas terkait kaya maksain buat semua penerbangan di Husein pindah ke Kertajati.
Akhirnya semua rute domestik yang dilayani Boeing 737 dan Airbus 320 pindah ke Kertajati. Cuma nyisain Internasional dan beberapa domestik yang pake ATR 72. Disinilah bandara Husein mulai memasuki fase kritis.
Pandemi Covid-19 di awal 2020 semakin memperberat beban tersebut. Sampe akhirnya penerbangan domestik yang pake jet balik lagi ke sini di masa adaptasi kebiasaan baru (AKB).
Pencabutan Status Bandara Internasional
Waktu AKB itu sebenarnya udah reaktivasi Husein Sastranegara. Meski mungkin sifatnya sementara. Sambil nunggu Tol Cisumdawu jadi. Sayangnya kemudian muncul dilema untuk pertama kalinya.
Pemerintah pengen ngurangi jumlah bandara Internasional, dan Husein Sastranegara adalah salah satu yang kena dampak itu. Status internasional pun akhirnya benar-benar dicabut. Praktis di sini cuma ada penerbangan domestik.
Sekali Lagi Pindah Paksa ke Kertajati
Tol Cisumdawu akhirnya beroperasi. Otomatis sekali lagi penerbangan domestik yang pake pesawat jet dipindah paksa ke Kertajati. Bahkan sekarang lebih ekstrem lagi karena ada wacana propeller kaya ATR 72 pun wajib pindah ke Kertajati.
Itu artinya Bandara Husein Sastranegara bakalan kosong. Benar memang cuma dijadiin buat penerbangan charter.
Memang ada sisi positif dibalik “penutupan” Bandara Husein Sastranegara untuk penerbangan komersial berjadwal. Pasalnya, kondisi bandara ini memang nggak bisa dibilang layak. Runway pendek dan dikelilingi gunung bikin bandara ini jadi salah satu yang paling ekstrem di dunia.
Ditambah lagi semakin bertumbuh pemukiman penduduk di sekitarnya. Jadi setiap ada pesawat take off atau landing bakalan berisik banget.
Reaktivasi Husein Sastranegara : Keinginan Walikota dan Didukung Gubernur
Aktivitas penerbangan di sini memang nggak sepenuhnya mati. Toh masih ada Susi Air rute Pangandaran-Bandung-Jakarta/Halim PP yang beroperasi. Pake pesawat jenis Grand Caravan.
Angin segar kembali muncul ketika walikota Bandung yang baru pengen reaktivasi Husein Sastranegara. Tujuannya buat mendongkrak kunjungan wisata ke Kota Bandung. Hal itu ternyata dapat dukungan dari Gubernur Jawa Barat.
Terlebih pemprov Jawa Barat sendiri cukup berat terus nalangin kerugian Kertajati yang ternyata tetap aja sepi. Hal ini lantas ditindaklanjuti pembukaan rute baru Wings Air Bandung Jogja PP. Jadi penerbangan berjadwal kedua setelah Susi Air yang beropertasi di sini. Diharapkan bakal banyak lagi rute yang dibuka.
Sayang Cuma Mentok di ATR 72-600
Ternyata, reaktivasi Husein Sastranegara nggak segampang balikin telapak tangan. Pasalnya, bandara ini udah sulit didarati pesawat jet. Apalagi jenis Airbus 320 dan Boeing 737 yang banyak beroperasi di Indonesia. Bisa sih bisa, tapi nggak bisa ngangkut full.
Jadilah bandara ini cuma mentok bisa didarati jenis ATR 72-600 dan itu bisa dengan daya angkut yang maksimal. ATR 72-600 nggak butuh landasan yang panjang.
Selain itu, Husein Sastranegara juga susah didarati di malam hari dan kondisi cuaca buruk. Jelas aja udah mah runway pendek, dikelilingin gunung pula. Belum lagi udah banyak bangunan di sekitarnya.


Leave a Reply